PATROLI HUTAN

Patroli Hutan selain menjaga dan mengamankan hutan ada fungsi lain yakni mengali potensi yang bisa dikembangkan untuk dikelola secara lestari (berkelanjutan)

PERSEMAIAN AGROFORESTRY

Pemberdayaan kelompok LPM FORCLIME dan Masyarakat dalam mengelola lahan menjadi lebih produktif dan Mandiri melalui pembangunan persemaian Agroforestry

PENINGKATAN KAPASITAS SDM

Pemberdayaan LPM dan anggota kelompok dilakukan dengan melakukan pelatihan seperti pelatihan persemaian Agroforestry, PLUP dan Pemetaan Partisipatif dan Patroli dan Pengaman Hutan

PEMETAAN PARTISIPATIF

Mengetahui Kepastian Wilayah. Peta Potensi dan kawasan kelola masyarakat. Menyusun rencana lokasi pengembangan DA REDD+. Meningkatkan kapasitas SDM masyarakat karena melibatkan partisipasi masyarakat.

EKOSISTEM HUTAN DAN PERUBAHAN IKLIM

Perbaikan Ekosistem Hutan meruapakan langkah tepat dalam membantu perbaikan program Kehutanan dan Perubahan Iklim

21 Apr 2017

PURI : POTENSI HHBK YANG CEPAT MENGHASILKAN


Kratom Borneo (Puri) 

Kratom Borneo atau lebih dikenal dengan daun Puri banyak tumbuh pada areal pedalaman Kalimantan. Tanaman puri tumbuh secara alami di alam bebas, dimana masyarakat mengenalnya tanaman kayu yang bisa dimanfaatkan kayu sebagai bahan pembuatan Furniture seperti kusen jendela. Berapa tahun terakhir ini masyarakat Kapuas Hulu dihebohkan dengan pengumpulan daun Puri. Sehingga masyarakat berbondong – bondong untuk berburu daun puri di hutan.  Kebutuhan daun Puri kering sangat meningkat sehingga masyarakat mulai membudidayakan tanaman Puri di kebun, di lahan tidur dan juga di halaman rumah.  

Anggota KMPH Agroforestry FORCLIME-FC
di Desa Benua Ujung Panen Puri
 Peluang tersebut dimanfaatkan oleh  Kelompok Masyarakat Pengelola Hutan (KMPH) Agroforestry FORCLIME-FC pada areal DA #2 untuk melakukan penanaman tanaman tersebut. Pada tahun 2015 ada 4 Desa areal DA #2 yang  mengusulkan pembibitan tanaman Puri. Desa yang mengusulkan pembibitan tersebut  antara lain Desa Benua Ujung,  Desa Benua Martinus dan Desa Ulak Pauk Kecamatan Hulu serta Desa Belatung Kecamatan Embaloh Hilir. Persemaian tersebut dilakukan secara bersamaan dengan tanaman perkebunan dan kehutanan lainnya.


Karena tanaman Puri dipanen untuk diambil daunnya maka prosesnya tidak begitu lama. Butuh waktu 6 bulan dari persemaian, daun puri sudah bisa dipetik.  Total anggota KMPH Agroforestry 283 KK yang menanaman Puri pada areal DA #2 putaran pertama saat ini sudah menikmati hasilnya.  
Proses pemanenan sangat mudah dilakukan dengan memetik daun tanaman tersebut dari pohonnya. Ada juga yang dilakukan dengan proses pemotongan dahan karena sudah terlalu tinggi. Daun basah tersebut dikumpulkan dan selanjutnya daun tersebut dijemur hingga kering. Proses penjemuran harus sering dibolak balik atau sambil dinjak – injak supaya pada saat proses mengayakan lebih mudah. Setelah daun tersebut kering  tahapan selanjutnya  dilakukan pengayakan hingga menjadi tepung halus. Pengayakan dapat dilakukan dengan mengunakan jaring (waring) yang halus dan ada juga yang mengunakan mesin. Jika mengunakan jaring biasanya harus dipukul – pukul terlebih dahulu sehingga yang keluar dari jaring adalah yang halus.

Penjemuran Daun Puri 
Proses Pengayakan Daun Puri 
Dari hasil 8 batang tanaman puri bisa menghasilkan 1 kilo tepung puri kering. Saat ini harga puri di Kecamatan Embaloh Hulu Rp. 20.000,-/kilo. Jika satu petani menanam dalam satu hektar sebanyak 800 batang dengan jarak tanam 3 x 4 dengan pola monokultur maka hasilnya bisa mencapai kurang lebih juta sekali panen. Dalam satu tahun proses pemanenan bisa 3- 4 kali panen jika dilakukan dengan cara dipetik. Hasilnya sangat lumanyan untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari. Harapan dari masyarakat supaya tanaman tersebut segera dilegalkan secara hukum, sehingga tanaman tersebut dapat dikembangkan lebih banyak lagi. Begitu juga masyarakat berharap ada perhatian oleh Pemerintah untuk membantu petani untuk meningkatkan kualitas hasil panen baik dalam bantuan mesin pengiling daun kering (Abe)  



7 Apr 2017

DUA DESA SEPAKAT PENGELOLAAH PERHUTANAN SOSIAL DENGAN POLA HUTAN DESA

IGNN Sutedja (PIA Kapuas Hulu) menjelaskan Hutan Desa pada saat Rapat Koordinasi di Mensiau  

Dua desa sepakat bahwa pengelolaan Perhutanan Sosial dengan pola pengelolaan Hutan Desa yakni Desa Tamao Kecamatan Embaloh Hulu dan Desa Mensiau Kecamatan Batang Lupar. Kesepakatan tersebut disetujui oleh kedua Desa tersebut setelah dilakukan rapat koordinasi Desa yang dilakukan tanggal 23 – 26 Maret 2017 di masing – masing Desa secara berurutan. Mulai dari Tamao tanggal 23 – 24 Maret 2017 di Kantor Desa Tamao dilanjutkan ke Desa Mensiau di Rumah Betang Dusun Kelawik. Acara yang dihadiri oleh perwakilan dari Perangkat Desa, Badan Musyawarah Desa, pengurus dan anggota Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD), LPM FORCLIME, Pemandu Lapangan dan juga Fasilitator Desa. Dalam hal ini Desa Tamao maupun Desa Mensiau sudah membentuk Lembaga Pengelolaan Hutan Desa (LPHD) masing – masing. LPHD dibentuk dengan memilih pengurus yang dilakukan secara musyawarah Desa. Yang paling menarik dalam kepengurusan LPHD Desa Mensiau ternyata seorang perempuan. Kita tau kalau kalau tugas ke hutan adalah kaum laki – laki, akan tetapi ibu H.M. Rendong tampil menjadi pemimpin untuk mengelola Hutan Desa yang direncanakan seluas 17.599 Hektar. Maka disinilah peran Gender mejadi hal yang mejadi perhatian program FORCLIME. Bahwa kaum perempuan mempunyai hak yang sama dengan yang lain.

H.M Rendong Ketua LPHD Desa Mensiau menandatangani hasil kesepakatan  
Kepala Desa Tamao Hermanus Ruman menandatangani hasil kesepakatan 
Sementara itu di Desa Tamao juga melibatkan kaum perempuan dalam kepengurusan. Dimana koordinator perencanaan hutan adalah perempuan yakni ibu Maria Beatha N. Dimana luas areal yang akan direncanakan oleh Desa Tamao seluas 6.304 Hektar. Areal tersebut akan dimanfaatkan oleh Desa salah satunya adalah pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) seperti rotan, damar, madu, tanaman obat – obatan dan masih banyak lagi. Selain itu potensi air terjun dan kondisi hutan yang masih asri dapat dijadikan sebagai pengelolaan jasa lingkungan atau ekowisata. Lembaga Pengelolaan Hutan Desa memiliki tugas menyusun rencana selama 10 tahun dan rencana tahunan, melakukan penataan batas areal kerja Hutan Desa,melindungi hutan, melakuka rehabilitasi dan pengayaan serta melakukan ketentuan lainnya sesuai dengan undang – undang. Hingga saat ini usulan dua Desa tersebut sudah di sampaikan ke Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan dengan tebusan kepada Gubernur Kalimantan Barat, Dinas Kehutanan Provinsi, Bupati Kapuas Hulu dan pihak yang terkait. Diharapkan pada tahun ini SK Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk kedua desa tersebut dapat terealisasikan. (Abe)

10 Mar 2017

DESA MENSIAU JADI PERCONTOHAN DEMPLOT SILVOFISHERY

Demplot Silvofishery DA REDD+ putaran pertama di Desa Mensiau Kecamatan Batang Lupar 

Demplot silvofishery di Desa Mensiau Kecamatan Batang Lupar dibuat dengan memanfaatkan lereng bukit. Sumber air yang melimpah menjadi potensi untuk dikembangkan budidaya ikan dan tanaman kehutanan. Berlokasi di kebun Pak Aden Dusun Kelawik Desa Mensiau demplot tersebut dibuat. 
  
Bibit yang didatangkan dari Sintang sebanyak 1.500 ekor ikan nila merah dan hitam, dikarenakan pada saat  bibit tersebut akan diambil, stok di BBI Kapuas Hulu tidak tersedia. Menurut Berry Adrian Yahya,S.Pi  Tenaga Ahli  Pengembangan Kehutanan dan Perikanan ( Silvofishery) bahwa pembelian ikan tersebut atas rekomendasi dari BBI tersebut. Dia juga menambahkan ikan yang diambil mengunakan bibit dengan ukuran 58 cm. Hal ini dimaksudkan supaya bibit tersebut sudah bisa beradaptasi dengan kolam dan juga rekomendasi untuk petani pemula.

Disekitar kolam seluas 30 x 70 meter tersebut juga ditanami dengan berbagai jenis tanaman palawija seperti jagung, jahe, serai, kunyit dan juga tanaman kehutanan “nyatu” (red: bahasa iban) dan tanaman perkebunan seperti karet.  Konsep inilah menurut Bery akan di kembangkan di areal DA sebagai contoh Silvofishery.
memanfaatkan lahan di sekitar kolam dengan menaanm tanaman hortikultura

Adapun beberapa keuntungan dengan pola Silvofishery seperti :
1. Selain panen ikan, kita panen sayur - sayuran dan buah - buahan,
2. Tanaman yang ada di sekitar kolam bisa sebagai menyangga air dan penyedia air bersih,
3. Limbah dari tanaman yang dipanen bisa menjadi alternatif pakan ikan seperti bonggol jagung, 

Selain itu yang perlu diperhatikan pada saat membuat konsep silvofishery seperti gambar disamping adalah :
1. Jangan mengunakan herbisida atau pupuk kimia lainnya untuk perawatan kebun supaya air di kolam tidak tercemar karena dapat membahyakan ikan dan manusia,
2. Kontrol air menjadi hal yang utama, jika salur pengeluaran tersumbat maka bisa menyebabkan air meluber dan ikan di dalamnya hanyut terbawa arus.(abe)