PATROLI HUTAN

Patroli Hutan selain menjaga dan mengamankan hutan ada fungsi lain yakni mengali potensi yang bisa dikembangkan untuk dikelola secara lestari (berkelanjutan)

PERSEMAIAN AGROFORESTRY

Pemberdayaan kelompok LPM FORCLIME dan Masyarakat dalam mengelola lahan menjadi lebih produktif dan Mandiri melalui pembangunan persemaian Agroforestry

PENINGKATAN KAPASITAS SDM

Pemberdayaan LPM dan anggota kelompok dilakukan dengan melakukan pelatihan seperti pelatihan persemaian Agroforestry, PLUP dan Pemetaan Partisipatif dan Patroli dan Pengaman Hutan

PEMETAAN PARTISIPATIF

Mengetahui Kepastian Wilayah. Peta Potensi dan kawasan kelola masyarakat. Menyusun rencana lokasi pengembangan DA REDD+. Meningkatkan kapasitas SDM masyarakat karena melibatkan partisipasi masyarakat.

EKOSISTEM HUTAN DAN PERUBAHAN IKLIM

Perbaikan Ekosistem Hutan meruapakan langkah tepat dalam membantu perbaikan program Kehutanan dan Perubahan Iklim

8 Nov 2016

AGROFORESTRY : Hampir 50 Persen Bibit Hasil Persemaian Sudah Ditanam di Da Redd+ Putaran Pertama


 
gambar. Bibit yang sudah ditanam di lokasi 
Pada tahun 2016 sebanyak 413.510 bibit akan ditanam di lokasi lahan milik masyarakat di DA REDD+ putaran pertama. Bibit yang sudah dipindahkan dari lokasi persemaian Agroforestry pada tahun 2015 lalu hingga saat ini sudah 100% dibagikan kepada anggota kelompok. Ada yang menanam karet, kakao, kopi dengan tanaman kehutanan seperti keladan, puri, cerindak, gaharu dan sebagainya, pada Triwulan III ini sudah mencapai 50 persen sudah ditanami. Setiap anggota akan mengambil sendiri bibit tersebut di lokasi persemaian sesuai usulan dan luas lahan yang diajukan. Program sudah membantu dalam pendanaan biaya distribusi dari persemaian ke Desa hingga dari Desa ke lokasi tanam. Tidak hanya itu dalam pemeliharaan seperti pemupukan dasar, pembersihan rumput penganggu bahkan pemasangan ajir juga di fasilitasi oleh program.
Dalam proses penanaman hingga pemeliharaan Williem Fredrik Jarau,SP Tenaga Ahli Agroforestry ikut mendampingi dan menberikan arahan dengan anggota KMPH Agroforestry.
Pemasangan ajir dan penanaman oleh KMPH Agroforestry di Desa Tamao 

  “bibit yang sudah didanai oleh program mestinya harus dirawat dengan baik. Karena bibit tersebut bukan punya program tapi punya masyarakat sendiri. Program hanya membantu bagaimana cara berkebun yang benar dan hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakat sendiri” ujar Jarau
Menurut Jarau ada berapa kedala dalam proses penanaman salah satunya pada saat akan dilakukan penanaman berbenturan dengan musim masyarakat berladang. Waktu membersihkan lahan bagi masyarakat setempat sulit untuk diganggu dengan kegiatan yang lain. Selain hal tersebut adalah mata pencaharian juga pada saat tersebut ada yang dinamakan “ambi ari” atau bergotong royong dengan cara bergiliran. Sehingga penanaman baru dapat dilakukan setelah tanaman padi ditanam. Masayrakat masih memiliki banyak waktu, dengan begitu pada saat tersebut dapat melakukan penanaman bibit dari program.
Meskipun begitu bagi Jarau sebagai pendamping akan berupaya bersama Fasilitator Desa dan Pemandu Lapangan terus berupaya supaya bibit tersebut segera ditanam. Salah satunya Desa Belatung Kecamatan Embaloh Hilir sudah melakukan penanaman sebelum dilakukan pencairan. Hal ini dilakukan karena bibit dipersemaian sudah terlalu besar dan dikhawatirkan jika tidak dipindahkan akan mati di persemaian. Hingga saat ini Belatung sudah melakukan penanaman 33.228 batang bibit puri dan karet atau sekitar 56 persen. 









11 Okt 2016

KADIS BUNHUT PASTIKAN PELAKSANAAN FS BERJALAN DENGAN LANCAR


Drs. H. Hasan M.M.Si memberikan sambutan pada acara FS 2 di Desa Tanjung Intan, Mentebah 

Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Drs. H. Hasan M.M.Si ikut menhadiri kegiatan kajian kelayakan (Feasibity Study) yang di laksanakan di wilayah DA REDD+ putaran kedua Siawan Belida sejak tanggal 24 Agustus 2016. Pada saat itu baru dimulai dengan lima Desa yakni Desa Nanga Boyan, Landau Mentail dan Teluk Geruguk Kecamatan Boyan Tanjung, Desa Tanjung Intan Kecamatan Mentebah dan Desa Nanga Tuan Kecamatan Bunut Hilir. 
Hasan rela bermalam beberapa hari di Desa hanya untuk memastikan pelaksanaan FS dapat berjalan dengan lancar serta dapat mendengar langsung pendapat masyarakat menerima program. Selaku KPA program FORCLIME dia berharap diwilayah tersebut dapat menerima FORCLIME karena program ini diterima dan dikelola langsung oleh kelompok masyarakat “ masyarakat yang mau dan memiliki lahan bisa langsung mengajukan proposal kegiatan seperti Agrofoestry (perkebunan dan kehutanan), Silfofishery ( perikanan dan kehutanan), Silvopastrual (peternakan dan kehutanan), pengembangan HHBK, reboisasi serta perhutanan sosial.
Selama satu pekan di tiap Desa akan dilakukan bebrbagai agenda mulai dari musyawarah desa untuk menyampaiakan tujuan kegiatan, dilanjutkan dengan hari kedua hingga keempat melakukan survey sosial ekonomi, hutan dan lahan dengan tujuan untuk meninjau langsung kondisi masyarakat dan hutan sebelum dilakukan usulan investasi dan hari ke enam maka dilakukan musyawarah kedua untuk mendengarkan hasil kajian yang sudah dilakukan.
Dihari yang sama juga dilakukan usulan proposal investasi dari Desa sebagai tindak lanjut dari kajian kelayakan tersebut. Usulan program tersebut dibuat dalam kelompok masyarakat pengelola hutan (KMPH). Kelompok tersebut akan mewakili setiap invesatasi yang diusulkan. Semakin banyak investasi maka akan semakin banyak kelompok tersebut. Untuk pengelolaan keuangan akan dikelola oleh Lembaga Pemberdayaan Masayrakat (LPM). 
"tahun ini kita akan fokus kepada pemetaan batas desa, jika sudah jelas batas desa maka kegiatan investasi lebih mudah dilakukan" jelas Hasan   



19 Agt 2016

KADIS BUNHUT LATIH BELASAN TENAGA KONTRAK SIAP KAJIAN KELAYAKAN DI DA REDD+ PUTARAN KEDUA


Pelatihan Feasibilty Studi (FS) pada areal Demontration Activity (DA) REDD+ putaran kedua kawasan hutan Siawan Belida resmi dibuka oleh Kepala Dinas Perekbunan dan Kehutanan Drs. H. Hasan M. M.Si (9/8).  Kegiatan yang dilakukan selama 4 hari mulai tanggal 9 -12 Agustus 2016 tersebut dilaksanakan di Hotel Rindu Kapuas, Putussibau melibatkan Fasilitator Desa, Pemandu Lapangan, Tenaga Ahli serta Tenaga Khusus di areal DA REDD+ putaran kedua kawasan hutan siawan belida. Narasumber langsung didatangkan dari pengelola program tingkat nasional National Program Management Unti (NPMU) Jakarta dan GFA consultan. Tidak hanya peserta dari lokal, pelatihan juga mengundang peserta dari pengelola program di District Program Management Unit (DPMU) Berau, Kalimantan Timur. Kajian Kelayakan (Feasilibity Study), yang selanjutnya disebut Kajian Kelayakan adalah untuk mengajak warga masyarakat secara partisipasi aktif dalam mengenal lebih dalam profil desanya termasuk kondisi bentang alam (landscape) desanya, menemukenali potensi-potensi pendukung serta permasalahan yang erat kaitannya dengan pengembangan perikehidupan masyarakat di sekitar hutan. Sehingga warga masyarakat dapat merumuskan sendiri terkait dengan solusi penyelesaian permasalahan perikehidupan yang mereka butuhkan. 

Hasan menambahkan kepada Fasilitator Desa dan Pemandu Lapangan yang baru saja dikontrak pada Juli 2016 untuk memahami program FORCLIME dan program apa saja yang menjadi investasi yang bisa dikembangkan di desanya. “ini kesempatan bagi Desa untuk mengajukan kegiatan investasi yang menjadi potensi di desanya. Kalau di Siawan Belida kita tau potensi ikan, madu, ekowisata atau yang sedang hangat dikembangkan saat ini seperti walet. Kesempatan ini sangat langka karena dari sekian ribu kabupaten di indonesia cuman ada 3 kabupaten saja yang mendapatkan bantuan hibah dari pemerintah jerman” ujar hasan

Potensi itulah yang akan dipelajari oleh para peserta yang berasal dari Desa setempat  nantinya menjadi narasumber pelaksanaan kegiatan kajian kelayakan (FS) pada areal DA REDD+ di 5 kecamatan. Dari 13 Desa tersebut tersebar di Kecamatan Boyan Tanjung, Mentebah, Bika, Embaloh Hilir dan Bunut Hilir direncanakan akan dilakukan pada bulan September mendatang.

Tujuan program FORCLIME adalah hutan terjaga dan masyarakat sejahtera. Untuk itu FORCLIME mengajak masyarakat membuat pola pengembangan hutan yang berkelanjutan dengan investasi yang bisa menambah pendapatan dari masyarakat. Seperti misalnya di kawasan danau siawan belida memiliki potensi jenis ikan, hasil hutan bukan kayu (madu dan rotan) dan juga tidak kalah menarik bahwa di danau memiliki daya tarik untuk dikembangkan ekowisata.Kajian kelayakan akan dilakukan dengan metode survei sosial ekonomi dan survei kondisi hutan. Hasil Survei sosial ekonomi menghasilkan baseline untuk sebagai dasar nanatinya jika akan dilakukan survey di akhir program. Maka disitu akan kelihatan apakah program berhasil mensejaterakan masyarakat dan hutan terjaga atau tidak. (abe