PATROLI HUTAN

Patroli Hutan selain menjaga dan mengamankan hutan ada fungsi lain yakni mengali potensi yang bisa dikembangkan untuk dikelola secara lestari (berkelanjutan)

PERSEMAIAN AGROFORESTRY

Pemberdayaan kelompok LPM FORCLIME dan Masyarakat dalam mengelola lahan menjadi lebih produktif dan Mandiri melalui pembangunan persemaian Agroforestry

PENINGKATAN KAPASITAS SDM

Pemberdayaan LPM dan anggota kelompok dilakukan dengan melakukan pelatihan seperti pelatihan persemaian Agroforestry, PLUP dan Pemetaan Partisipatif dan Patroli dan Pengaman Hutan

PEMETAAN PARTISIPATIF

Mengetahui Kepastian Wilayah. Peta Potensi dan kawasan kelola masyarakat. Menyusun rencana lokasi pengembangan DA REDD+. Meningkatkan kapasitas SDM masyarakat karena melibatkan partisipasi masyarakat.

EKOSISTEM HUTAN DAN PERUBAHAN IKLIM

Perbaikan Ekosistem Hutan meruapakan langkah tepat dalam membantu perbaikan program Kehutanan dan Perubahan Iklim

26 Nov 2017

Oven Ikan Asap Mengurangi Deforestasi

oven ikan asap di Danau Pontu bantuan Forclime

Danau Pontu Desa Bunut Hulu Kecamatan Bunut Hilir memiliki produk unggulan ikan Salai atau Ikan Asap.Pembuatan ikan asap tidak luput dari pengunaan kayu bakar dalam proses pemanggangan ikan. Untuk memasak ikan dibutuhkan waktu 2 hari hingga matang. Dalam satu hari bisa menghabiskan kayu bakar 4 - 7 potong kayu atau kurang lebih 1 kubik.

 Sehingga utk memasak ikan asap dibutuhkan 15 potong kayu bakar setara 2 kubik. Kayu yang digunakan adalah kayu keras seperti kawi atau kamsia dalam bahasa orang danau. Jika semua masyarakat yang ada di sekitar danau kurang lebih 30 KK membuat ikan asap, pastinya semakin banyak kayu yang ditebang. Untuk itu program FORCLIME melalui kegiatan Silvifishery membuat dengan modifikasi oven ikan asap. Pembuatan oven ikan asap merupakan perbaikan tempat pengasapan ikan yang sudah ada. Secara tradisional para-para (tempat mengasap ikan) dibuat secara terbuka. Sehingga uap panas yang dihasilkan lepas begitu saja. Akan tetapi dengan membuat tutup pada bagian para-para tersebut maka panas akan mengumpul di dalam para-para. Uap panas akan bertahan lebih lama dan menyebar secara merata. Dengan begitu maka proses pemasakan ikan akan lebih cepat. Waktu yang dibutuhkan untuk memasak ikan asap hanya satu hari satu malam saja. Sehingga waktu dan pengunaan kayu bakar lebih sedikit dan efesien.
 Tidak hanya itu secara keamanan dengan  oven ikan asap lebih terjamin karena sudah terlindung dengan seng. Secara kualitas, hasilnya lebih bersih dan kering merata. Hal ini dapat meningkatkan mutu olahan ikan dan lebih tahan lama. 
Dari hasil tersebut program berharap ada perbaikan pengeloaan hutan dengan mengurangi deforestasi dan peningkatan perekonomian masyarakat sekitar hutan. Tidak hanya disitu saja, 24 ,anggota yang tergabung dalam program tersebut menanam tanaman kehutanan sebagai upaya mitigasi dan reboisasi hutan yang tidak termanfaatkan. 

17 Nov 2017

INVESTASI PROGRAM FORCLIME MEMBANGUN PEMBERDAYAAN DAN PARTISPATIF MASYARAKAT DI SEKITAR HUTAN

Pembangunan persemaian areal DA#8 di 7 Desa pada Kecamatan Bika, Embaloh Hilir, Boyan Tanjung dan Mentebah

Setelah melakukan Monitoring dan Evaluasi pada Areal DA putaran pertama, kini tim Monev melakukan hal yang sama pada Areal DA putaran kedua. Tim yang diketuai oleh Tenaga Khusus Publikasi dan Dokumentasi tersebut melaksanakan kegiatan Monev mulai tanggal 8 hingga 15 November 2017 di 12 Desa pada 5 Kecamatan. Secara estapet kunjungan pertama di Desa Jongkong Manday, Keliling Semulung dan Pala Pintas Kecamatan Embaloh Hilir hingga 10 November 2017. Hasil monitoring tim bahwa pembangunan persemaian masyarakat di tiga Desa sudah sesuai dengan standar dan tingkat kematian bibit rendah. Hal yang paling mengejutkan bahwa swadaya masyarakat untuk menganti tanaman yang mati terutama tanaman Puri sangat antusias. Menurut ketua LPM Jongkong Manday bahwa kami sudah dibantu program dengan begitu banyak, kami juga harus bisa memberikan kontribusi sebaliknya. Karena kami mengangap program FORCLIME sangat membantu Desa. Ada beberapa jenis tanaman yang disemaikan pada areal DA #8 seperti tanaman karet, kopi, lada dan puri. Semua bibit yang didatangkan dari benih yang berkualitas dan besertifikasi. Selain persersemaian, juga dilakukan investasi budidaya ikan dan tanaman kehutanan (Silvofishery) seperti ikan Nila, Patin, Jelawat dan Lele. Budidaya dilakukan di keramba maupun di kolam. Hasilnya tingkat kematian dibawah 20% dan perkembangan ikan cukup baik. Hal ini dibuktikan oleh tim tidak hanya di Kecamatan Ebmaloh Hilir, tetapi juga di 4 Desa di Kecamatan Bunut Hilir (Kapuas Raya, Bunut Hulu, Nanga Tuan dan Entibab). Masyarakat sangat senang karena bisa membudidayakan ikan yang belum pernah dibudidayakan di keramba seperti ikan lele. Ternyata ikan Lele selain tahan dengan kondisi air yang kurang baik dimana ikan yang lain tidak tahan, Lele sudah menunjukan pertubuhan yang baik. Setelah 2 bulan lebih bibit ditebar kini ukuran lele sudah mencapai 3 – 4 ons. Dengan melihat pertumbuhan ikan lele tersebut ada inisiatif dari anggota akan menganti ikan yang mati dengan budidaya ikan lele. Selain itu menurut salah satu LPM bahwa pasaran ikan lele sangat mudah dan waktunya tidak lama.
Silvofishery : Budidaya ikan Nila,Lele, Jelawat dan Patin di beberapa Areal DA #8 tumbuh dengan baik 

 Tim yang terdiri dari PIA NPMU selaku DTL DPMU Kapuas Hulu, DF GFA dan Tenaga Ahli, Tenaga Khusus serta Pemandu Lapangan berlanjut ke 3 Desa di Kecamatan Boyan Tanjung ( Teluk Geruguk, Landau Mentail dan Nanga Boyan) dan Desa Tanjung Intan Kecamatan Mentebah. Selain metode kunjungan lapangan, tim juga melakukan wawancara dan diskusi dengan tim patroli hutan dan pemetaan partisipatif kepada anggota KMPH di setiap Desa. Pemetaan batas administrasi Desa hampir semua melakukan kegiatan tersebut kecuali Desa Tanjung Intan Kecamatan Mentebah. Bersama Pemeirtahan Desa dan masyarakat tim melakukan pelacakan batas administrasi Desa dilanjutkan dengan pemasangan plang serta pembuatan berita acara. Hingga saat ini sudah 80% kegiatan pemetaan tahun 2017 sudah selesai. Sisanya akan dilakukan hingga akhir November 2017. Sedangkan kegiatan patroli hutan hingga saat ini sudah mencapai 90% dilaksanakan.
Rapat Evaluasi : Rapat tingkat Kecamatan dihadiri FD,LPM dan PL dan kegiatan wawancara 


Beberapa kegiatan lainnya seperti pembuatan demplot hortikultura dan pemanfaatan hasil hutan bukan kayu (HHBK) Madu Tikung tidak luput dari Monitoring tim. Hasil monitoring tersebut disampaiakan melalui rapat  tingkat Kecamatan. Pada rapat tersebut dihadiri oleh LPM, Fasilitator Desa dan Pemandu Lapangan dari masing –masing Desa di setiap Kecamatan. Pada saat tersebut hasil monitoring disampaikan oleh tim dan apa saja yang menjadi kendala di lapangan. Diskusi dan tindak lanjut juga disampaikan dalam pertemuan tersebut. hal ini diharapkan Monitoring dan Evaluasi menjadi pembelajaran untuk membangun investasi program FORCLIME dan pemberdayaan masyarakat semakin baik. (ab)x
x

28 Okt 2017

Monitoring dan Evaluasi Pelaksanaan Kegiatan FORCLIME-FC


Monitoring dan Evaluasi (Monev) terhadap hasil penyelenggaraan kegiatan investasi program Forclime-FC yang diselenggarakan sejak tanggal 14 – 24 Oktober 2017.  Monitoring dilakukan oleh tim Monev di 16 Desa pada areal DA REDD+ putaran pertama Kabupaten Kapuas Hulu. Tim tersebut terdiri dari District Team Leader, DF GFA, Tenaga Ahli, Tenaga Khusus dan Pemandu Lapangan. Tujuan monitoring adalah untuk melihat perkembangan kegiatan berupa pembibitan atau persemaian masyarakat, penanaman dan pemeliharaan, pemetaan batas administrasi Desa, patroli hutan dan monitoring biodivsersity, demplot hortikultura serta silvofishery. 
Adapun lokasi yang dituju meliputi 8 Desa di Kecamatan Embaloh Hulu meliputi Desa Belatung, Ulak Pauk, Saujung Giling Manik, Tamao, Menua Sadap, Pulau Manak, Benua Martinus, Benua Ujung. Kecamatan Batang Lupar meliputi 8 Desa antara lain Desa Labian, Labian Ira’ang, Mensiau, Sungai Abau, Sungai Ajung, Sepandan, Lanjak Deras dan Melemba serta Tenaga Ahli dan Tenaga Khusus DPMU Kapuas Hulu.
Metoda yang dipergunakan adalah random sampling dengan jumlah sample 5 % dari total luas areal penanaman di tiap Desa. Sampel akan dihitung dari jumlah populasi dalam satu lahan. Sementara responden yang akan dijadikan narasumber adalah perwakilan dari setiap dusun dalam satu Desa.
Dari hasil kegiatan monitoring tersebut bahwa kegiatan pembangunan Agroforestry di mulai dengan pembangunan persemaian masyarakat dibangun pada tahun 2015 di 16 desa. Kemudian dilanjutkan dengan penanaman dilaksanakan pada tahun 2016, dan pemeliharaan tanaman dilaksanakan pada tahun 2017. Berdasarkan monitoring dan evaluasi bahwa secara keseluruhan penanaman telah dilakukan sesuai dengan proposal  yang diajukan dengan tingkat keberhasilan tanaman sekitar 80 % dengan pertumbuhan yang beragam. Kegiatan pemeliharaan tanaman sudah dilakukan oleh anggota. Meskipun sempat tertunda disebabkan karena masyarakat masih sibuk dengan kalender musim (berladang).

Pertumbuhan tanaman sudah menunjukan hasil seperti kopi di beberapa Desa sudah berbunga, sementara karet sudah mencapai tinggi 2 meter lebih dengan diameter 3 – 4 cm. Yang paling membagakan bahwa 4 Desa sudah melakukan pemanenan tanaman puri dengan jumlah total saat ini mencapai Rp. 124.000.000, lebih dengan jumlah panen 6.562 kg. Harga saat ini per kilo Rp. 18.000 – Rp. 20.000;. Tanaman puri tersebut bisa dipanen 3 – 4 kali dalam setahun. Sehingga hasil tersebut bisa menambah penghasilan para petani terutama anggota yang tergabung dalam KMPH (Kelompok Masyarakat Pengelola Hutan) pada areal DA REDD+ putaran pertama.

Selain itu Pelaksanaan Patroli Hutan Berbasis Masyarakat Tahap Pertama telah selesai dilaksanakan oleh tim. Tinggal menunggu tahap kedua setelah pencairan. Tidak hanya itu program perbaikan sistem perladangan melalui demplot tanaman hortikulura di Desa Labian sudah melakukan beberapa kali panen. Hasilnya sudah mencapai kurang lebih 20 jutaan. Hingga saat ini masih terus berkembang dan memenuhi kebuhutan sayur di pasar Lanjak, Kecamatan Batang Lupar.  Adapun program demplot sawah sedang dalam menyemeian benih padi di dua Desa yakni Desa Sungai Abau dan Pulau Manak.  
Untuk program Silvofishery pertumbuhan ikan baik, meskipun ada beberapa anggota yang mati disebabkan hama dan kondisi air yang tidak cocok.
Sebagai tindak lanjut tim melakukan rapat membahas hasil monitoring setiap Kecamatan. Mulai dari tanggal 18 Oktober 2017 di Kecamatan Embaloh Hulu dan tanggal 23 di Kecamatan Batang Lupar. Peserta yang hadir terdiri dari Fasilitator Desa, Pemandu Lapangan dan LPM FORCLIME. Hal ini untuk mengevaluasi dan mengambil pelajaran (lesson lern) dari masing – masing program.
Kegiatan monitoring pada areal DA #8 akan dimulai pada tanggal 8 November 2017. Guna meningkatkan pengawasan terhadap pelaksaan kegiatan pemeliharaan tanaman agroforestri maka, Fasilitator Desa, Pemandu Lapangan, LPM dan KMPH akan melakukan pengukuran dan pencatatan tanaman pada masing – masing lokasi KMPH Agroforestri.