PATROLI HUTAN

Patroli Hutan selain menjaga dan mengamankan hutan ada fungsi lain yakni mengali potensi yang bisa dikembangkan untuk dikelola secara lestari (berkelanjutan)

PERSEMAIAN AGROFORESTRY

Pemberdayaan kelompok LPM FORCLIME dan Masyarakat dalam mengelola lahan menjadi lebih produktif dan Mandiri melalui pembangunan persemaian Agroforestry

PENINGKATAN KAPASITAS SDM

Pemberdayaan LPM dan anggota kelompok dilakukan dengan melakukan pelatihan seperti pelatihan persemaian Agroforestry, PLUP dan Pemetaan Partisipatif dan Patroli dan Pengaman Hutan

PEMETAAN PARTISIPATIF

Mengetahui Kepastian Wilayah. Peta Potensi dan kawasan kelola masyarakat. Menyusun rencana lokasi pengembangan DA REDD+. Meningkatkan kapasitas SDM masyarakat karena melibatkan partisipasi masyarakat.

EKOSISTEM HUTAN DAN PERUBAHAN IKLIM

Perbaikan Ekosistem Hutan meruapakan langkah tepat dalam membantu perbaikan program Kehutanan dan Perubahan Iklim

9 Jun 2017

16 DESA BELAJAR BUDIDAYA AGROFORESTRY DI DEMPLOT FORLCIME


16 Desa binaan program FORCLIME melakukan pelatihan budidaya tanaman Agroforestry di Demplot percontohan program FORCLIME di Desa Mensiau (17–18/6). Peserta terdiri dari kelompok LPM FORCLIME di 16 Desa pertama di Kecamatan Embaloh Hulu dan Batang Lupar. Masing – masing 3 orang setiap Desa belajar cara perawatan tanaman utama dengan cara pengemburan tanah dan pemberian pupuk yang tepat.

Menurut Tenaga Ahli Pengembangan Budidaya Kehutanan dan Pertanian Willlem Fredrik Jarau,SP pelatihan bertujuan untuk melatih anggota kelompok tani hutan dalam melakukan perawatan tanaman. Sehingga pada saat pencairan program perawatan tanaman dilakukan, kelompok sudah bisa melakukan perawatan dengan benar.


Agroforestry atau kebun campur saat ini dirasakan sangat menguntungkan. Jika dibandingkan dengan monokultur, model tersebut dapat dinikmati hasilnya lebih cepat. Setiap musim kita bisa melakukan pemanenan. Misalkan jangka pendek kita dapat memanen sayuran dan tanaman hortikultura. Sayuran bisa ditanam disela – sela tanaman utama yang masih kecil.


Willem Frederik Jarau, SP selaku tenaga pengajar menyampaikan khusus untuk lokasi dengan kontur tanah yang berbukit – bukit bisa dilakukan dengan cara membuat terasering. Ini penting menurutnya karena selain memudahkan dalam melakukan perawatan dengan cara tersebut bisa menahan erosi tanah dan longsor. 

3 Jun 2017

5 DESA TERIMA PERATURAN BUPATI KAPUAS HULU TENTANG BATAS ADMINISTRASI DESA


Pihak Kecamatan menyerahkan Peta dan Peraturan BUPATI kepada 5 Desa pada saat penutupan Gawai Dayak Kec. Batang Lupar 2017 

Kelima Desa tersebut meliputi Desa Tamao dan Langan Baru Kecamatan Embaloh Hulu, serta Desa Mensiau, Lanjak Deras dan Labian Ira’ang Kecamatan Batang Lupar. Penyerahan peraturan Bupati Kapuas Hulu diserahkan oleh Pemerintah Kecamatan Batang Lupar atas nama BUPATI Kapuas Hulu bersamaan dengan penutupan Gawai Dayak Kecamatan Batang Lupar (25/5).
Proses pengukuran dan pemetaan batas administrasi  Desa di 5 Desa tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2015 dengan memperoleh dukungan pendampingan dari program FORCLIME (Forest and Climate Change) sebuah program kerjasama dengan Pemerintah Republik Federal Jerman yang didukung oleh Bank Pembangunan Jerman KFW. Pelaksanaan program FORCLIME dilakukan oleh Pemerintah Daerah Kabupaten Kapuas Hulu melalui Tugas Perbantuan (Medebewin) dari Pemerintah Pusat dalam hal ini Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia. Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Kapuas Hulu ditetapkan oleh BUPATI Kapuas Hulu sebagai Unit Pengelola Program (District Proggrame Management Unit) di Kabupaten Kapuas Hulu sejak tahun 2011 hingga sekarang.
Selain melakukan pendampingan pemetaan batas Desa di 16 Desa di wilayah Kecamatan Batang Lupar dan Embaloh Hulu yang merupakan areal Demontation Activity (DA) REDD+ putaran pertama. FORCLIME juga akan mendampingi 13 Desa di wilayah Kecamatan Embaloh Hilir, Bika, Bunut Hilir, Mentebah dan Boyan Tanjung ( DA putaran kedua). Program FORCLIME juga memberikan dukungan pemberdayaan masyarakat melalui pembangunan tanaman Agroforestry, patroli masyarakat (community patrol), pengembangan hasil hutan bukan kayu (HHBK), pengembangan Hutan Desa, Silvofishery, perbaikan sistem perladangan, demplot hortikultura dan inventarisasi karbon di 29 Desa binaan tersebut.
Penyrahan piala dan paigam kepada 3 KMPH Penanaman Agroforestry terbaik 

Bersamaan dengan acara Gawai tersebut juga dilakukan penganugerahan dengan pemberian penghargaan kepada kelompok masyarakat pengelola hutan (KMPH) FORCLIME untuk areal DA REDD+ putaran pertama (Batang Lupar dan Embaloh Hulu) yang sudah berpartisipasi dalam pelaksanaan program di lapangan. Penghargaan kedua kalinya ini  dibuat dalam tiga kategori antara lain dimulai dari terbaik pertama untuk kegiatan penanaman Agroforestry yakni Desa Labian, dilanjutkan dengan Desa Mensiau dan Desa Tamao. Sementara kegiatan pemetaan batas administrasi desa diraih oleh Desa Tamao disusul Desa Lanjak Deras dan Labian Ira’ang. Kemudian diakhiri dengan penganugerahan kepada Desa Mensiau sebagai terbaik pertama kategori Patroli hutan berbasis masyarakat dengan diikuti Desa Melemba dan Sepandan sebagai terbaik kedua dan ketiga.

Sutedja memberikan sambuatan pada saat acara penutupan Gawai Dayak Kecamatan Batang Lupar 2017

Dalam kesempatan tersebut, program team leader (DTL) Kabupaten Kapuas Hulu (Sutedja) selain menyampaikan penghargaan kepada kelompok masyarakat yang berada pada areal Demontration Activity REDD+, juga menyampaikan dalam sambutannya bahwa kegiatan yang sudah dilakukan selama ini merupakan dukungan program FORCLIME terhadap pemerintah Kabupaten Kapuas Hulu, terutama dalam fasilitasi percepatan penyelesaian batas administrasi Desa, perencanaan tata guna lahan Desa, peningkatan perikehidupan masyarakat di Desa melalui kegiatan investasi terkait di atas. Pada akhir sambutnya Sutedja menyampaikan bahwa lima Desa yang telah memperoleh Peraturan Bupati Kapuas Hulu dapat menjadi contoh dan pembelajaran untuk Desa – Desa lainnya di Kapuas Hulu. Dalam penetapan batas administrasi Desa, program FORCLIME di Kapuas Hulu bekerjasama baik dengan dinas terkait terutama Dinas Pemberdayaan Pemerintahan Desa (PEMDES), Dinas Perkebunan dan Kehutanan, Pemerintah Kecamatan dan Desa serta kelompok tani hutan. Imbuhnya   

21 Apr 2017

PURI : POTENSI HHBK YANG CEPAT MENGHASILKAN


Kratom Borneo (Puri) 

Kratom Borneo atau lebih dikenal dengan daun Puri banyak tumbuh pada areal pedalaman Kalimantan. Tanaman puri tumbuh secara alami di alam bebas, dimana masyarakat mengenalnya tanaman kayu yang bisa dimanfaatkan kayu sebagai bahan pembuatan Furniture seperti kusen jendela. Berapa tahun terakhir ini masyarakat Kapuas Hulu dihebohkan dengan pengumpulan daun Puri. Sehingga masyarakat berbondong – bondong untuk berburu daun puri di hutan.  Kebutuhan daun Puri kering sangat meningkat sehingga masyarakat mulai membudidayakan tanaman Puri di kebun, di lahan tidur dan juga di halaman rumah.  

Anggota KMPH Agroforestry FORCLIME-FC
di Desa Benua Ujung Panen Puri
 Peluang tersebut dimanfaatkan oleh  Kelompok Masyarakat Pengelola Hutan (KMPH) Agroforestry FORCLIME-FC pada areal DA #2 untuk melakukan penanaman tanaman tersebut. Pada tahun 2015 ada 4 Desa areal DA #2 yang  mengusulkan pembibitan tanaman Puri. Desa yang mengusulkan pembibitan tersebut  antara lain Desa Benua Ujung,  Desa Benua Martinus dan Desa Ulak Pauk Kecamatan Hulu serta Desa Belatung Kecamatan Embaloh Hilir. Persemaian tersebut dilakukan secara bersamaan dengan tanaman perkebunan dan kehutanan lainnya.


Karena tanaman Puri dipanen untuk diambil daunnya maka prosesnya tidak begitu lama. Butuh waktu 6 bulan dari persemaian, daun puri sudah bisa dipetik.  Total anggota KMPH Agroforestry 283 KK yang menanaman Puri pada areal DA #2 putaran pertama saat ini sudah menikmati hasilnya.  
Proses pemanenan sangat mudah dilakukan dengan memetik daun tanaman tersebut dari pohonnya. Ada juga yang dilakukan dengan proses pemotongan dahan karena sudah terlalu tinggi. Daun basah tersebut dikumpulkan dan selanjutnya daun tersebut dijemur hingga kering. Proses penjemuran harus sering dibolak balik atau sambil dinjak – injak supaya pada saat proses mengayakan lebih mudah. Setelah daun tersebut kering  tahapan selanjutnya  dilakukan pengayakan hingga menjadi tepung halus. Pengayakan dapat dilakukan dengan mengunakan jaring (waring) yang halus dan ada juga yang mengunakan mesin. Jika mengunakan jaring biasanya harus dipukul – pukul terlebih dahulu sehingga yang keluar dari jaring adalah yang halus.

Penjemuran Daun Puri 
Proses Pengayakan Daun Puri 
Dari hasil 8 batang tanaman puri bisa menghasilkan 1 kilo tepung puri kering. Saat ini harga puri di Kecamatan Embaloh Hulu Rp. 20.000,-/kilo. Jika satu petani menanam dalam satu hektar sebanyak 800 batang dengan jarak tanam 3 x 4 dengan pola monokultur maka hasilnya bisa mencapai kurang lebih juta sekali panen. Dalam satu tahun proses pemanenan bisa 3- 4 kali panen jika dilakukan dengan cara dipetik. Hasilnya sangat lumanyan untuk membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari – hari. Harapan dari masyarakat supaya tanaman tersebut segera dilegalkan secara hukum, sehingga tanaman tersebut dapat dikembangkan lebih banyak lagi. Begitu juga masyarakat berharap ada perhatian oleh Pemerintah untuk membantu petani untuk meningkatkan kualitas hasil panen baik dalam bantuan mesin pengiling daun kering (Abe)