PATROLI HUTAN

Patroli Hutan selain menjaga dan mengamankan hutan ada fungsi lain yakni mengali potensi yang bisa dikembangkan untuk dikelola secara lestari (berkelanjutan)

PERSEMAIAN AGROFORESTRY

Pemberdayaan kelompok LPM FORCLIME dan Masyarakat dalam mengelola lahan menjadi lebih produktif dan Mandiri melalui pembangunan persemaian Agroforestry

PENINGKATAN KAPASITAS SDM

Pemberdayaan LPM dan anggota kelompok dilakukan dengan melakukan pelatihan seperti pelatihan persemaian Agroforestry, PLUP dan Pemetaan Partisipatif dan Patroli dan Pengaman Hutan

PEMETAAN PARTISIPATIF

Mengetahui Kepastian Wilayah. Peta Potensi dan kawasan kelola masyarakat. Menyusun rencana lokasi pengembangan DA REDD+. Meningkatkan kapasitas SDM masyarakat karena melibatkan partisipasi masyarakat.

EKOSISTEM HUTAN DAN PERUBAHAN IKLIM

Perbaikan Ekosistem Hutan meruapakan langkah tepat dalam membantu perbaikan program Kehutanan dan Perubahan Iklim

16 Des 2016

PELATIHAN GPS UNTUK DESA JELEMUK DAN JONGKONG MANDAY

Desa Jelemuk dan Jongkong Manday Kecamatan Bika dilatih dalam pengunaan GPS oleh DPMU Kapuas Hulu 
Hasil Kajian Kelayakan (Feasibility Study) yang diselenggarakan pada areal DA REDD+ putaran kedua area Siawan Belidak di 2 desa Kecamatan Bika yakni Jelemuk dan Jongkong Manday tahun 2016 teridentifikasi bahwa 2 desa tersebut belum memiliki deliniasi batas desa definitive. Hal tersebut kemudian dikaji lebih dalam dengan pelaksanaan kegiatan rapat koordinasi batas desa dengan melibatkan desa-desa yang berbatasan di Kecamatan Bika dengan menghasilkan kesepakatan dan peluang-peluang penyelesaian batas desa.  Dimana batas desa tersebut sudah teridentifikasi melalui penyajian dan penarikan garis batas dengan metode kartometrik (penarikan batas di atas peta).

Dalam proses pemetaan batas desa mengacu pada Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 45 2016 tentang Pedoman Penetapan dan Penegasan Batas Desa, dimana metode penetapan batas desa secara kartometrik selanjutnya dilakukan pelacakan dan penegasan batas di lapangan dengan menggunakan alat-alat pemetaan dalam hal ini Global Position System (GPS) agar diperoleh koordinat dan jalur lokasi yang tepat.
Untuk itu dalam mendukung tim pemetaan partisipatif di dua Desa tersebut maka dilakukan pelatihan penggunaan GPS yang dilaksanakan selama 2 hari pada tanggal  4-5 November 2016 bertempat di Gedung Serbaguna Kecamatan Bika, Kabupaten Kapuas Hulu. Sedangkan praktek lapangan untuk pengambilan titik koordinat, pembuatan rute,  perekaman jejak dan kalkulasi area dengan menggunakan GPS, dilakukan di Desa Bika.
Program Kehutanan dan Perubahan Iklim (Forclime) mendukung pemetaan batas desa melalui kegiatan Pemetaan Partisipatif Masyarakat (Community Mapping), batas desa menjadi elemen penting dalam implementasi berbagai jenis investasi program agar kegiatan-kegiatan tersebut tepat lokasi, terukur dan dapat di monitoring.

Keberhasilan pelaksanaan pengambilan lokasi lapangan sangat bergantung pada kemampuan, pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki oleh pelaksana di lapangan. Dalam upaya memastikan bahwa kegiatan dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif, Forclime FC Kabupaten Kapuas Hulu melakukan penguatan kapasitas (capacity building) terutama melalui pelatihan (training) penggunaan GPS, agar masyarakat desa bisa menghasilkan Peta Wilayah Batas Administrasi sesuai dengan kondisi yang nyata di lapangan, yang dapat dijadikan dasar untuk mengembangkan intervensi kegiatan oleh Pemerintah, FORCLIME - FC maupun para pihak lainnya.
Praktek pengunaan GPS oleh Deary Rakhmadi,SP (TK GIS dan Database) 

Adapun tujuan pelatihan adalah untuk mencetak personal-personal terampil di tingkat desa dalam penggunaan GPS sehingga memudahkan dalam mengidentifikasi  potensi sumber daya alam, pemanfaatan lahan oleh masyarakat, batas desa dan pengambilan data-data spasial lapangan lainnya.
Deary Rakhmadi,SP (TK GIS dan Database) berharap dengan dilakukan pelatihan terebut peserta paham tentang penggunaan GPS, peserta paham konsep pemetaan dan tatacara pengambilan data di lapangan. Selain itu peserta juga mampu untuk mengaplikasikan program GPS dan mengolah data lapangan di komputer.




8 Nov 2016

AGROFORESTRY : Hampir 50 Persen Bibit Hasil Persemaian Sudah Ditanam di Da Redd+ Putaran Pertama


 
gambar. Bibit yang sudah ditanam di lokasi 
Pada tahun 2016 sebanyak 413.510 bibit akan ditanam di lokasi lahan milik masyarakat di DA REDD+ putaran pertama. Bibit yang sudah dipindahkan dari lokasi persemaian Agroforestry pada tahun 2015 lalu hingga saat ini sudah 100% dibagikan kepada anggota kelompok. Ada yang menanam karet, kakao, kopi dengan tanaman kehutanan seperti keladan, puri, cerindak, gaharu dan sebagainya, pada Triwulan III ini sudah mencapai 50 persen sudah ditanami. Setiap anggota akan mengambil sendiri bibit tersebut di lokasi persemaian sesuai usulan dan luas lahan yang diajukan. Program sudah membantu dalam pendanaan biaya distribusi dari persemaian ke Desa hingga dari Desa ke lokasi tanam. Tidak hanya itu dalam pemeliharaan seperti pemupukan dasar, pembersihan rumput penganggu bahkan pemasangan ajir juga di fasilitasi oleh program.
Dalam proses penanaman hingga pemeliharaan Williem Fredrik Jarau,SP Tenaga Ahli Agroforestry ikut mendampingi dan menberikan arahan dengan anggota KMPH Agroforestry.
Pemasangan ajir dan penanaman oleh KMPH Agroforestry di Desa Tamao 

  “bibit yang sudah didanai oleh program mestinya harus dirawat dengan baik. Karena bibit tersebut bukan punya program tapi punya masyarakat sendiri. Program hanya membantu bagaimana cara berkebun yang benar dan hasilnya dapat dirasakan oleh masyarakat sendiri” ujar Jarau
Menurut Jarau ada berapa kedala dalam proses penanaman salah satunya pada saat akan dilakukan penanaman berbenturan dengan musim masyarakat berladang. Waktu membersihkan lahan bagi masyarakat setempat sulit untuk diganggu dengan kegiatan yang lain. Selain hal tersebut adalah mata pencaharian juga pada saat tersebut ada yang dinamakan “ambi ari” atau bergotong royong dengan cara bergiliran. Sehingga penanaman baru dapat dilakukan setelah tanaman padi ditanam. Masayrakat masih memiliki banyak waktu, dengan begitu pada saat tersebut dapat melakukan penanaman bibit dari program.
Meskipun begitu bagi Jarau sebagai pendamping akan berupaya bersama Fasilitator Desa dan Pemandu Lapangan terus berupaya supaya bibit tersebut segera ditanam. Salah satunya Desa Belatung Kecamatan Embaloh Hilir sudah melakukan penanaman sebelum dilakukan pencairan. Hal ini dilakukan karena bibit dipersemaian sudah terlalu besar dan dikhawatirkan jika tidak dipindahkan akan mati di persemaian. Hingga saat ini Belatung sudah melakukan penanaman 33.228 batang bibit puri dan karet atau sekitar 56 persen. 









11 Okt 2016

KADIS BUNHUT PASTIKAN PELAKSANAAN FS BERJALAN DENGAN LANCAR


Drs. H. Hasan M.M.Si memberikan sambutan pada acara FS 2 di Desa Tanjung Intan, Mentebah 

Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan Drs. H. Hasan M.M.Si ikut menhadiri kegiatan kajian kelayakan (Feasibity Study) yang di laksanakan di wilayah DA REDD+ putaran kedua Siawan Belida sejak tanggal 24 Agustus 2016. Pada saat itu baru dimulai dengan lima Desa yakni Desa Nanga Boyan, Landau Mentail dan Teluk Geruguk Kecamatan Boyan Tanjung, Desa Tanjung Intan Kecamatan Mentebah dan Desa Nanga Tuan Kecamatan Bunut Hilir. 
Hasan rela bermalam beberapa hari di Desa hanya untuk memastikan pelaksanaan FS dapat berjalan dengan lancar serta dapat mendengar langsung pendapat masyarakat menerima program. Selaku KPA program FORCLIME dia berharap diwilayah tersebut dapat menerima FORCLIME karena program ini diterima dan dikelola langsung oleh kelompok masyarakat “ masyarakat yang mau dan memiliki lahan bisa langsung mengajukan proposal kegiatan seperti Agrofoestry (perkebunan dan kehutanan), Silfofishery ( perikanan dan kehutanan), Silvopastrual (peternakan dan kehutanan), pengembangan HHBK, reboisasi serta perhutanan sosial.
Selama satu pekan di tiap Desa akan dilakukan bebrbagai agenda mulai dari musyawarah desa untuk menyampaiakan tujuan kegiatan, dilanjutkan dengan hari kedua hingga keempat melakukan survey sosial ekonomi, hutan dan lahan dengan tujuan untuk meninjau langsung kondisi masyarakat dan hutan sebelum dilakukan usulan investasi dan hari ke enam maka dilakukan musyawarah kedua untuk mendengarkan hasil kajian yang sudah dilakukan.
Dihari yang sama juga dilakukan usulan proposal investasi dari Desa sebagai tindak lanjut dari kajian kelayakan tersebut. Usulan program tersebut dibuat dalam kelompok masyarakat pengelola hutan (KMPH). Kelompok tersebut akan mewakili setiap invesatasi yang diusulkan. Semakin banyak investasi maka akan semakin banyak kelompok tersebut. Untuk pengelolaan keuangan akan dikelola oleh Lembaga Pemberdayaan Masayrakat (LPM). 
"tahun ini kita akan fokus kepada pemetaan batas desa, jika sudah jelas batas desa maka kegiatan investasi lebih mudah dilakukan" jelas Hasan