-

-

PATROLI HUTAN

Patroli Hutan selain menjaga dan mengamankan hutan ada fungsi lain yakni mengali potensi yang bisa dikembangkan untuk dikelola secara lestari (berkelanjutan)

PERSEMAIAN AGROFORESTRY

Pemberdayaan kelompok LPM FORCLIME dan Masyarakat dalam mengelola lahan menjadi lebih produktif dan Mandiri melalui pembangunan persemaian Agroforestry

PENINGKATAN KAPASITAS SDM

Pemberdayaan LPM dan anggota kelompok dilakukan dengan melakukan pelatihan seperti pelatihan persemaian Agroforestry, PLUP dan Pemetaan Partisipatif dan Patroli dan Pengaman Hutan

PEMETAAN PARTISIPATIF

Mengetahui Kepastian Wilayah. Peta Potensi dan kawasan kelola masyarakat. Menyusun rencana lokasi pengembangan DA REDD+. Meningkatkan kapasitas SDM masyarakat karena melibatkan partisipasi masyarakat.

EKOSISTEM HUTAN DAN PERUBAHAN IKLIM

Perbaikan Ekosistem Hutan meruapakan langkah tepat dalam membantu perbaikan program Kehutanan dan Perubahan Iklim

10 Feb 2016

DESA MELEMBA SUKSES MERENCANAKAN PROGRAM DESA MELALUI PETA 3 DIMENSI


 
 Desa Melemba berhasil membuat peta 3 Dimensi secara mandiri 
Participatory land use planing (PLUP) sudah menjadi impian bagi masyaakat dalam perencaan Desa yang tertata. Bagaimana tidak, perencanaan Desa tidak hanya sebatas pada buku dan dokomen saja akan tetapi ada harus dibuktikan dengan data dan hasil lapangan yang jelas. Melalui PLUP masyarakat awam saja bisa tau dengan melihat peta 3 dimensi. Peta tersebut dibuat berdasarkan hasil pemetaan partsipatif yang dilakukan oleh kelompok masyarakat pengelola hutan (KMPH) PLUP di masing-masing desa pada wilayah percontohan DA REDD+ putaran pertama. Kelompok tersebut yang sudah di SK-an oleh kepala desa diberikan pelatihan cara-cara pemetaan oleh DPMU tenaga khusus GIS dan Database RS Deary Rakhmadi, SP pada pelatihan PLUP tahun 2015 lalu. Berbagai ilmu yang dibekali oleh Deary kepada KMPH tersebut seperti pengunaan GPS, pengemabilan titik hingga perencanaan tata guna lahan melalui peta 3 dimensi.

Peta 3 dimensi ini dengan memanfaatkan bahan sederhana seperti kardus, cat dan lainnya, KMPH sudah bisa membuat dengan sendirinya. Salah satunya Desa Melemba sudah sukses melakukan pembuatan peta 3 dimensi. Tidak butuh waktu lama setelah dilakukan survey dan pengambilan titik maka data tersebut dioleh dalam bentuk peta dasar. Peta dasar inilah yang menjadi panduan KMPH dalam membuat peta 3 dimensi.

Peta 3 Dimensi Desa Melemba sudah terpampang di Ruang Depan Rumah Panjai Dusun Meliau, Desa Melemba 


Kini peta tersebut sudah terpampang secara rapi yang tebungkus dalam menja kaca di ruang depan Rumah Panjai (Rumah Betang) di Dusun Meliau Desa Melemba. Ini membuktikan keseriusan dari masyarakat ingin memiliki Desa Impian meski masih di dalam peta. Dengan langkah perencaan yang baik ini diharapkan ada dukungan dari berbagai pihak untuk mewujudkan Desa Impian tersebut. 

5 Feb 2016

HARGA KARET TURUN, MASYARAKAT BERALIH KE AGROFORESTRY


Kebun Agroforestry kerjasama GIZ FORCLIME di Desa Labian,
Kec. Batang Lupar 

Komoditi yang menjadi unggulan masyarakat kini semakin melemah dengan harga jual Rp. 4.000; hingga Rp. 5.000; per kilo. sehingga petani karet menjadi lesu untuk menoreh karet yang sudah sejak lama penjadi penghidupan sehari-hari. kondisi ini membuat masyarakat mencari alternatif lain untuk bisa menambah penghasilan keluarga. Sehingga program yang hadir dikawasan tersebut menawarkan inovasi baru bagi masyarakat setempat yakni sistem kebun campur atau agroforestry.  Meski sistem Agroforestry sudah lama di kenal di Indonesia akan tetapi masih terbilang baru bagi petani di Kapuas Hulu umumnya. untuk itu berbagai lembaga yang bergerak di bidang kehutanan maupun restorasi memberikan solusi dalam pemanfaatan lahan yang selama ini masih bersifat monokultur.
FORCLIME-FC  sudah mempersipakan persemaian Kakao
 antaralain di Desa Menua Sadap untuk pembangunan Agroforestry 

FORCLIME misalnya sudah melakukan upaya tersebut dengan membangun persemaian Agrofoestry di 16 Desa pada tahun 2015. Berbagai tamanan yang sudah disiapkan seperti kakao, kopi, puri, gaharu, karet dan tanaman kehutanan lain sebagainya. Komoditi tersebut akan ditanam di lahan kelompok KMPH FORCLIME pada tahun 2016 di lahan milik masing-masing. Selain lahan yang masih kosong, tanaman tersebut juga direncanakan akan melanjuti kegiatan penanaman di lokasi investasi cepat yang sudah dilakukan pada tahun 2013 lalu. Hasilnya diharapkan tidak membuka hutan lagi akan tetapi memanfaatkan lahan yang kurang produktif.  Tidak hanya FORCLIME saja, akan tetapi lembaga lain seperti WWF, Forina, ASPUP (Asosiasi Pengrajin Tenun Tradisional berbahan Alami) , Diantama, Forum DAS Labian juga melakukan hal yang sama. Sehingga pada Kamis, 28 Januari 2015 lembaga-lembaga tersebut melakukan rapat mitra agroforestry di kecamatan batang lupar di ruang rapat WWF Lanjak. dihadiri Camat Batang Lupar dan Kepala Desa di wilayah Kecamatan Batang Lupar menyepakati panduan Agroforesry di wilayah tersebut.
Rapat  bersama mitra pelaksana pembangunan Agroforestry di Kec. Batang Lupar

Buku panduan tersebut akan disesuaikan dengan masing - masing kegiatan pada lembaga apa yang menjadi tujuan akhir kegiatan lembaga tersebut.  Harapannya dengan buku panduan tersebut supaya masyarakat bisa memahami secara mudah di lapangan. selain itu kegiatan dari berbagai lembaga pada wilayah yang sama tidak terjadi tumpang tindih satu sama lain. koordinasi ini akan terus dilakukan hingga konsep buku panduan bisa di publikasikan (abe).



1 Feb 2016

MONITOIRNG BIODIVERSYTY MELALUI PATROLI HUTAN



Monitoring Biodiversity dilakukan secara partisipatif oleh tim LPM FORCLIME-FC 
Monitoring Biodevetsity (keanekaragaman hayati) menjadi hal penting dalam membangun hutan yang berkelanjutan. Hal ini sudah tertuang dalam capaian program di output pertama hingga program berakhir. Untuk itu pada tahun 2015 ini sudah ada 14 dari 16 Desa di wilayah DA REDD+ putaran pertama yang mengusulkan investasi jangka panjang berupa patroli hutan.
Kegiatan ini dilakukan oleh tim patroli hutan yang sudah di SK-an oleh kepala desa masing-masing. 
Patroli hutan merupakan salah satu investasi jangka panjang selain pembangunan persemiaan Agroforestry dan pemetaan partisipatif (PLUP). Dengan tujuan untuk mencegah terjadinya kerusakan hutan dan keanekaragaman hayati yang terdapat didalamnya serta mengetahui aktifitas keharian di areal hutan tersebut. Selain itu kegiatan patroli tidak hanya pada menjaga hutan saja tetapi mengali potensi-potensi yang bisa dikembangkan. Seperti ada satwa endemik yang dilindungi bisa menjadi daya tarik ekowisata untuk melihat secara langsung. 

Tempayan dan gong yang ditemukan pada lokasi bekas pemukiman

Hewan yang sering dijumpai disekitar kawasan hutan antara lain Beruang, Tringiling, Rusa, Burung Ruai, Burung Murai Batu, Labi-labi (Kura-kura) dan juga jenis orang utan yang sebutkan masyarakat setempay dengan Lempiau.  Selain itu potensi hasil bukan kayu masih banyak di kawasan DA REDD+ seperti bambu, rotan, damar, aren (enau), madu hutan, dan juga tanaman obat-obatan.  
Kegiatan penebangan hutan juga masih juga dilakukan masyarakat. Akan tetapi di kawasan tersebut selama ini masih dalam tahap kewajaran. Penebangan hutan dilakukan hanya sekedar untuk kebutuhan rumah tangga saja. 



Kura-kura yang dijumpai pada saat patroli hutan 


Pengambilan hasil kayu tersebut tidak bisa dilakukan sembarangan karena di adat masyarakat setempat ada tempat – tempat tertentu yang diperbolehkan mengambil hasil tersebut.  
Dari kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan kepedulian dan peran aktif masyarakat terhadap perlindungan, pengamanan dan pelestarian hutan serta keanekaragaman hayati di desanya. Kedepannya bisa dijadikan sebagai program yang dapat meningkatkan perekonomian masyarakat (abe).