SOSIAL EKONOMI

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

AGROFORESTRY

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

PEMETAAN PARTISIPATIF

Mengetahui Kepastian Wilayah. Peta Potensi dan kawasan kelola masyarakat. Menyusun rencana lokasi pengembangan DA REDD+. Meningkatkan kapasitas SDM masyarakat karena melibatkan partisipasi masyarakat.

EKOSISTEM HUTAN

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

25 Mar 2015

POSTER FORCLIME

Poster FORCLIME DPMU Kapuas Hulu (1)


16 Mar 2015

GIZ SIAP MENDORONG KPH DALAM PENGEMBANGAN BUSINESS PLAN



Putussibau, GIZ FORCLIME-TC Module sudah berjalan kurang lebih lima tahun sejak 2009 di Kabupaten Kapuas Hulu dalam program FORCLIME. Pada Jum’at 13/03 di ruang DPMU Kapuas Hulu, GIZ kembali mengadakan pertemuan bersama Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kab. Kapuas Hulu, DPMU selaku pengelola program FORCLMIE-FC Module dan KPHP Model Kapuas Hulu. 

Gheok memaparkan program ForClime-TC 2015 kepada Kadis Bunhut Kapuas Hulu beserta staf 
Peremuan tersebut dselain untuk memperkenalkan struktur baru di tubuh FORCLIME_TC juga dilakukan sosialisasi dan koordinasi program FORCLIME –TC tahun 2015 kepada stakholder. Dihadiri kepala dinas Perkebunan dan Kehutanan Kab. Kapuas Hulu beserta staf, Mr. Geokh selaku Direktur Program FORCLIME-TC / GIZ Jakarta menyampaikan program –program yang akan dilakukan tahun ini. Selama ini GIZ di Kapuas Hulu sudah melakukan kegiatan yang mendukung program FORCLIME dalam pengurangan emisi karbon seperti, inventori hutan, workshop analisa perhitungan emisi karbon tingkat kabupaten dan berbagai workshop lainnya. 
Dari hasil workshop yang pernah dilakukan, GIZ sudah menganalisa hasil perhitungan karbon tingkat Kabupaten khususnya di Kapuas Hulu. Akan tetapi hasilnya belum bisa digunakan karena system MRV di tingkat nasional belum disahkan.

 “ Meskipun belum disahkan di tingkat nasional, kami berharap ada dorongan dari pemerintah daerah Kabuapten Kapuas Hulu untuk dibuatkan peraturan daerah ( Perda ) untuk mempercepat proses tersebut” ujar Gheok yang didampingi oleh staf GIZ lainnya. 

Disisi lain, Gheok melihat Kabupaten Kapuas Hulu yang sudah dicanangkan sebagai Kabupaten Konservasi memiliki banyak potensi. Hal itu diperkuat dengan kawasan khusus wilayah yang dikelola oleh kabupaten melalui Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi ( KPHP ) Model Kapuas Hulu. Unit pengelola yang berada di daerah Mataso, Kec Embaloh Hulu ini memiliki wewenang untuk mengelola hasil hutan dengan melakukan kemitraan baik pihak ketiga atau dengan masyarakat di wilayah tersebut. Dengan pemberdayaan masyarakat di sekitar hutan seperti membangun industry hulu hingga ke hilir harapanya bisa membantu meningkatkan perekonomian di wilayah tersebut. GIZ juga siap mendorong business plan dengan melakukan kemitraan dengan KPH asalkan program yang akan dikelola memiliki konsep yang bagus dan berkelanjutan. 
Kepala KPH memberikan informasi potensi di Wilayahnya kepada staf GIZ 
Program yang akan dikembangkan harus jelas produknya, konsisten dalam pengeloaanya dan bersifat bersinambungan. Terlebih hingga tahapan pemasaran produk. Sehingga menurutnya, KPH Kapuas Hulu bisa dikelola seperti pada KPH yang ada di wilayah Jogjakarta yang sudah terkelola dengan baik. “ kemitraan yang ada di KPH seperti ini belum pernah ada, sehingga jika ini berhasil maka akan menjadi contoh bagi kabupaten yang lain” harap Gheok ( Abe )

12 Mar 2015

TEMBAWANG BERPOTENSI UNTUK PENGEMBANGAN AGROFORESTRY



salah seorang warga menunjukan lokasi Tembawang  hanya menyisakan tiang rumah panjang dan perpohonan sudah tinggi menjulang serta lokasi yang masih alami 

DPMU KAPUAS HULU, Tembawang dalam bahasa tamambaloh Bale’ Anso merupakan bekas lokasi pemukiman masyarakat setempat yang sudah ditingggalkan oleh penghuninya. Tembawang mulai ditinggalkan oleh penghuninya dapat disebabkan oleh berbagai faktor seperti sering terjadi wabah penyakit atau hama di lokasi tersebut atau juga disebabkan bencana alam seperti longsor, banjir, kebakaran dan sebagainya. Sebagai tempat pemukiman warga, pastinya berbagai aktivitas yang sering dilakukan di lokasi tersebut untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti sayur, buah-buahan, tanaman obat-obatan dan juga protein hewani. Sehingga berbagai jenis tumbuhan baik yang ditanam secara sengaja maupun tumbuh sendiri. 

Pada saat ditinggalkan oleh penghuninya, Tembawang sudah menjadi lahan milik desa atau dikelola secara bersama , sehingga pemanfaatannya dapat dilakukan secara bersama. Hampir setiap desa memiliki lokasi tembawang atau tembawai sebutan oleh suku iban. Dikarenakan dikelola bersama, hampir beberapa lokasi tembawang tidak dirawat dan dikelola dengan baik. Masyarakat setempat hanya mendatangi lokasi tersebut untuk mengambil buah pada musim panen seperti buah langsat, durian, kopi, aren, kelapa, jambu dan sebagainya. Terkadang lokasi tersebut juga dijadikan sebagai tempat berburu babi, burung, dan binatang lainnya karena ditempat tersebut makananya melimpah.

Potensi bambu yang hanya digunakan untuk perlatan kerja 
Melihat potensi tersebut, Wiliam Jarau sebagai Tenaga Ahli Pertanian, Peternakan dan Agroforestry menyanyangkan lokasi tersebut tidak terkelola dengan baik. Jarau menganalisa dari hasil kajian Pengembangan Perikehidupan dan Ekosistem Hutan Jangka Panjang pada Oktober 2014, potensi Tembawang tersebut akan dimanfaatkan sebagai lokasi pengembangan Agroforestry.




Buah Tengkawang yang baru di panen untuk diolah 
Pola pengembangan Agroforestry di lokasi tersebut menurut Jarau tidak memerlukan biaya yang mahal untuk pembersihan lokasi dan pemupukan, dikarenakan lokasi tersebut sudah subur dan tanaman sudah ada yang tumbuh meskipun tidak teratur. Jarau berharap dengan pengembangan pola Agroforestry diharapkan dapat menjadi terobosan baru dalam pengelolaan hutan tanpa harus membuka lahan baru. Selain itu dengan pola tersebut biaya yang murah dan butuh kerjasama dengan pemerintah desa supaya dapat menjadi tambahan pendapatan bagi masyarakat setempat. Di tahun 2015 ini, Jarau sudah mencanangkan akan berkoordinasi bersama kelompok LPM FORCLIME yang merupakan lembaga pemberdayaan masyarakat di wilayah DA REDD+ untuk mendorong salah satu programnya di bidang Agroforestry untuk mendukung program jangka panjang di masing-masing desa. Selain itu Jarau juga akan berupaya untuk pengembangan program lainnya dibidang Pertanian dan Peternakan maupun Perikanan. ( Abe/ Jarau )